Monday, November 29, 2010

:: a pathetic transformation ::

Dear Luv,


It's Monday already, yet the weekend was not as good as I expected. The issue was simple, a used to be very nice person turns into a very annoying person. Why? Simply because of her heavy workload. How pathetic was that?

Knowing that, I am know really thanking the Lord for guiding me to make the right decision.



P.S: the above-mentioned annoying person just called me, and she has turned nice again. Oh my!



... and let our minds open, evolve and produce...
Luv,
-onk-

Tuesday, September 7, 2010

kembung

Dear Luv,


It was a clear night. The air was fresh but pretty cold since the afternoon. We had fun since the day, Little Red was satisfy and happy, ketawa-ketiwi seakan kami adalah komedian paten.

Lalu datanglah kegelapan, dia mulai gelisah. Bukan, bukan karena gelapnya malam, karena lampu rumah menyala terang benderang dan boksnya pun memiliki penerangan tambahan sebagai penghangat seperti di penetasan telur -which is cenderung menyilaukan but he loves it so let it be lah.

Jam 8 malam Little Red bangun, lalu menyusu seperti biasa. Setelah nyusu dia main-main. Selalu minta diajakin ngobrol atau menyanyi. Pernah Omi usul supaya dia diperdengarkan siaran radio, siaran berita tepatnya, biar nambah wawasan sekalian. To be noted: Omi mengusulkan ini dengan nada serius. Si radio tua yang udah naik ke gudang pun turun tahta ke lantai kamar Little Red, kembali dihidupkan. Meskipun setelah dicoba itu radio uzur berbunyi, Little Red memilih siaran musik ketimbang berita. Oh well.

Sampai jam 9 malam Little Red mulai bosan dengan 2 penyiar kesayangan, Ayah dan Bunda. Mulutnya yang semula tersenyum mulai merapat dan garis lengkungnya mengarah ke bawah. Oh oh Little Red mulai merengek. Semula rengekan biasa kusumbat dengan puting susu. tapi kali ini ditolak mentah-mentah. Dicoba lagi kujejalkan ke mulut mungilnya, dan dengan ajaib kembali ditolak. Oh no! Ini pertanda buruk. Ayah menggendongnya sambil meninabobokan, semakin semangat kami bernyanyi semakin Little Red memberontak. Rengekan meningkat intensitasnya menjadi tangisan dan tidak sampai 3 menit naik derajat lagi menjadi jeritan pilu menyayat hati.

Ayah dan Bunda yang semula telah mendadak dangdut, rock, pop, blues, jazz dll demi menghibur hati ananda kini mendadak panik. Dengan kepercayaan diri yang tinggi dan rasa sotoy abis kuletakkan Little Red di kasur, kubuka semua bajunya dan kutepuk perutnya dengan jari, lalu terdengarlah: bung..bung... oh ah my little boy kembung. Keluarlah minyak sakti paduan antara boreh dan minyak telon. Kami gosokkan ke perut dan punggung bawahnya sambil kami pegangi jemari mungilnya.

Satu menit, lima menit masih menjerit memilukan. Sepuluh menit kemudian mulailah keluar si angin jahat bernama kentut. Ampun baunya, seperti telur busuk. Bunyi panjang dari telur-telur busuk yang satu demi satu keluar itu ternyata membawa kebahagiaan bagi my Little Red. Jeritan pilu menyayat hati serta merta berhenti. Tidak sampai 5 detik si ugal-ugil kembali tersenyum. Olala... Setelah puas memproduksi angin beraroma telur busuk my Little Red kemudian ingat bahwa ia haus. Kali ini tidak menolak kususui. Aah leganya... Little Red pun tertidur karena lelah dan kenyang.

Besoknya kala kami menjemur Little Red beberapa tetangga yang lewat bertanya, kenapa semalam menangis keras? Habis imunisasi ya? Susunya keluarnya sedikit ya? Kedinginan? Digigit semut atau nyamuk kali... dan berjuta pertanyaan lain yang serasa menjadikan kami tertuduh penganiaya bayi.



... and let our minds open, evolve and produce.
luv,

-onk-


Monday, May 17, 2010

a girl name Niar and her Cucumbers, Limes and Bananas #2

Dear Luv,

As I read my first post with the same title, now I can answer my own question:

"Twenty thousands rupiah can do so much for her and her family, how much is it for us? a cup of frappucino and a cup of lemon tea that we used to sip? a pack of your cigar? a bar of my dark chocolate? hmm..."

Twenty thousands rupiah at this moment, can do so much for me too. It is about 3 kilos rice or two take-away meals or two days self-cooked meals for my little family. It did so much for Niar, it even do much more for me and my little family now.


It brings me lots of thought, twenty thousands rupiah two years ago and today has completely different values for me and my little family. It is true. Two years ago, it was a bar of my dark chocolate, but today? You know what, life is indeed a mystery. I never thought that twenty thousands rupiah can change my perception toward life.

Nothing last forever, though am still searching for eternal oblivion!


luv,
-onk-


Tuesday, May 11, 2010

am I lucky or simply deserve it? #2: antara sistem, pilihan, prioritas, kebahagiaan dan kepuasan

Dear Luv,


Sebuah tulisan dari masa lalu menggelitikku pagi ini, di sela-sela jam kerja aku mencuri waktu sedikit untuk menulis ini. Aku membaca ulang tulisanku dengan judul yg sama, Am I Lucky or Simply Deserve it?

At that time, I was lucky... very lucky to be there and I deserve(d) it. I did, I do. Now, those privilege --yang kuusahakan dan (sempat) berhasil kuwujudkan-- apakah harus kurelakan? Apakah aku sudah kehilangan my luck and my deservedness?

Ada sebuah 'sistem' --yang kurasa tidak bisa kusalahkan-- yang memisahkan antara manusia dengan luck & deservedness -nya. Ada juga yang namanya 'pilihan' yang kemudian berhubungan dengan yang namanya 'prioritas'. Lalu ada juga yang bernama 'kebahagiaan'. Keluarga beranak banyak itu kemudian bersepupu dengan yang bernama 'kepuasan'.

Kembali pada persoalan utama yang dibahas di judul ini, ketika bertanya kembali, lagi dan lagi: apa yang membuatku bahagia? ada banyak yang bisa kutuliskan, tapi ketika ditanyakan lagi: apa yang membuatku puas? hanya satu. Lalu apakah kepuasan harus mengalahkan kebahagiaan? atau sebaliknya? aku belum bisa menjawabnya. Karena sungguh itu dua hal yang berbeda, bukan saling menghalangi but simply they have very different path.

Mungkin jika aku masih memiliki my luck dan deservedness keduanya akan bertautan dan sejalan. Harapanku akan kulambungkan setinggi-tingginya. Mungkin nabastala yang luas menyimpan dua hal penting yang pernah kumiliki itu dan mau mengembalikannya padaku.


...berharap pada nabastala...
luv,
-onk-

Thursday, May 6, 2010

:: a privilege of being an expectant #4: shopping time ::

Dear Luv,

Gak terasa udah masuk bulan ke-8. Selain badan udah terasa berat dan harus banyak istirahat, ini jg berarti: BELANJA! yayayay...

Baju-baju kecil, grita, popok, sarung tangan - sarung kaki... and all those little cute things aaaw... membuatku lupa akan kondisi fisikku. Setiap kali berhenti dan mengamati item tertentu, aku terpukau, this is it, I'm shopping for my child. Berbeda rasanya dengan ketika membeli barang atau kado untuk diri sendiri, atau bahkan untuk suami. Kali ini aku memilih barang untuk seseorang yang sedang ada dalam perutku. Kyaa...!

Well of course, for me all colors have no sex, jd asal bahannya bagus, harga terjangkau dan sesuai kebutuhan, no matter what color, I bought them. But when I came to ribbon-decorated little shoes, aku jd bertanya, warna gak masalah tapi pita? Hmm... kalau nanti anakku laki-laki maka anggap aja ini pelajaran pertama tentang being-gender-neutral hahaha...

Eniwei... setelah sekitar sejam menelusuri lantai yg khusus untuk perlengkapan dan peralatan bayi, aku turun untuk mencari hal lain. Baru saja browsing, eh pandanganku gelap. Ternyata aku kecapekkan hehehw... mata berkunang-kunang tanda aku harus mengakhiri sesi belanja pertama ini.

Hmm... harus mengingat tentang keterbatasan energi lain kali. Alrite, that's all for now, I'll see you in the next (shopping) session :)



luv,
-0nk-

Tuesday, March 30, 2010

:: privilege of being an expectant #3 -- ... and the child moves *ouch...!* ::

... and the child moves *ouch...!*



Dear Luv,

"Red moves!" I cried a few weeks ago. It was an amazing experience :) Ayah and I were startled to see spasms on my womb. And to feel it moved.

"Cute," he said.
"Strange," I said.

It was a total happiness, to realize there is life inside of me, to feel it, to have it. Something I never thought before, something far from my imagination. None of my sense could explain such feeling, though I feel it. And by the day, the moves are stronger and more frequent. The more Red moves, the more Ayah and I realize how much we love Red.

As now, when I'm typing this, Red's moving in my womb.


...wish you were here with us, to feel Red.


luv,

-onk-

Tuesday, March 2, 2010

:: Privilege of Being an Expectant #2 -- baby fat ::

Dear Luv,


Gak terasa udah mau masuk trimester ketiga, hmm... cepet banget ya, perasaan baru kemarin morning-till-you-drop sickness deh. Enggak terasa juga udah dua bulan wira-wiri Jogja-Solo, hehehe... berdesak bersama di kereta sejak matahari masih baru muncul sampai udah mau tenggelam. Enggak nyangka, aku bisa :) Kupikir dulu pas masa bedrest bakalan kayak gitu terus, ternyata malah sebaliknya. Semoga trimester berikutnya juga as good as this one, even better. Soalnya bulan-bulan ke depan udah mulai muter ke lapangan :)

Well, eniwei... tadi pagi pas berangkat di kereta aku baru menyadari sebuah perubahan lagi di badanku. Emang sih, banyak literatur yang bilang soal ini itu. Nah, tadi baru aku mengamati kalau jari-jariku menggemuk, banget. Tapi anehnya siang ini dia mengurus lagi, hmm... should I ask the doctor about it?

Selain bertambahnya baby fat (yang sebenarnya enggak seberapa di badanku) akibat nafsu makan gila-gilaan, juga mengakibatkan heartburn. Dan lagi panasnyaa... aduh mulai kepanasan lebih gampang ngerasa sumuk dan sumpek ketimbang si ayah yang biasanya gampang kepanasan. Jadi tidur pun mulai pindah, keluar dari kamar, boyongan alat tidur ke ruang tengah yang lega udaranya hahaha...

Hmm... gotta split now, musti nyelesaikan beberapa hal sebelum berdesak lagi di kereta :)


... oh how I love this kid from the moment I knew he/she's there.

cheers,
-onk-





Tuesday, February 16, 2010

:: Privilege of Being an Expectant #1 ::



Dear Luv,

It's my 22nd or 23rd (?) week, and I kinda enjoy this moment. Well, I never thought that being pregnant can be this lovely -remembering my first trimester, duh! As some said, second trimester is the lightest term of pregnancy. Regardless the headache and nausea, I start to eat a lot.

My body has changed, people now can see my big womb and chubby cheek. As they recognize me being pregnant, they start to give special attention. Oh you know what, it's quite fun actually.

Do you see the banana above? Yup, a friend gave it to me this morning. I asked one or two pieces, I got a cluster instead :) Last week, I asked one or two pieces rambutan, and they gave me a kilo. Perhaps they think that I need lots of certain thing that I asked, when I actually wanted to taste a bit only.

Oh I wish my baby is fine inside me, I really... really happy for his/her presence.
Thanks God.

banana cheers,
-onk-




Thursday, January 7, 2010

rudjak series: 10 years and counting


"You are a blast to the past, a present to the present, and a treasure to the future," quoted from Aree, salah seorang "wanita penghibur" yang menyadarkan betapa kaya diriku.


Dear Luv,

It was an after-rain-evening, neither cold nor warm. The food was plain yet the words were spoken well. At that moment I realized how rich I am, to have such friends. It was a total happiness. Kami bicara banyak, dari pentingnya nampang di sebuah sudut unik kota New York sampai ke "what is happiness?"

Percakapan kemudian mengalir ke sebuah topik, di antara tawa dan intermezzo sederhana. Tentang seorang yang narsis, tentang seorang yang "sakit", tentang seorang yg building allies utk menyerang orang lain, tentang seorang teman. Was it a friend, anyway? It depends on how you define "friend".

Ternyata ada juga orang yang sangat merasa perlu utk menyatakan eksistensinya, tentu saja menurutku karena ia tidak pernah memperoleh pengakuan. Oh well, pengakuan mungkin banyak, tapi yang memenuhi kepuasannya? Uhm... For me it just another form of addiction.

Sedangkan untuk menjawab "what is happiness?", aku merasa tidak berhak. Pertama karena to define happiness is a personal privilege. Second, how can I tell about happiness when I can't give the proof in an absolute statement or material? So it's totally your call.

The next thing was "what is success?" A friend believe that it is a matter of having a lot of money and having a happy family. Another friend said that it was a matter of having a very rich husband and a lot of money. The other said that it was a matter of what you achieve in your own standard. Well, again, it's your call.

Dan selain itu aku lupa, mungkin karena terbasuh derai tawa yang membuat perutku kram semalaman, mungkin karena aku terlalu berusaha mengingatnya, mungkin karena janin di perutku membuatku lupa akan hampir semua hal lainnya, ah entahlah. Jadi biarkan pembicaraan kaya itu menari saja dulu di sel-sel otakku sebelum kumuntahkan kembali di sini untukmu. Ya, untukmu dan masih akan untukmu.



Luv,
-onk-