Thursday, October 16, 2014

Little Scraps of My Old Broken Mind


Dear Luv,

Just found this old note, little scraps of my old broken mind. Terserak begitu saja di antara tulisan usang lainnya, but hey, gotta love this one. So yeah, this is for you, enjoy Luv.


September 20, 2005
03.00 p.m. – Room 428, Hotel Polonia, Medan

Tubuhku serasa tertusuk-tusuk tatkala air panas mengucur deras dari shower. Ngilu. Entah karena lantai kamar mandi yang licin atau memang tak lagi aku seimbang berdiri, serasa limbung tubuhku setiap kupejamkan mata menikmati kucuran hangat.

Di luar sana terserak berkas-berkas kerjaan menutupi kasur sampai ke karpet tebal kamar hotel ini. Pemandangan dan hiruk pikuk lalu lintas kota Medan terkalahkan oleh aktivitas di kamar ini. Kemarahan atasan sudah sampai ke ubun-ubun, ditambah ketegangan demi ketegangan muncul dalam tiap nada suara rekan-rekan. Kami sedang mencoba melewati sebuah fase audit, yg nampaknya tidak semakin mudah.
           
Aku melangkah berat keluar dari kamar mandi, kesegaran sesaat setelah mandi betul-betul hanya sesaat. Lenyap begitu saja berganti kelelahan yang teramat ketika kudapati wajah-wajah lelah dan penuh ketegangan di hadapanku. Tidak mudah memang bekerja di bawah tekanan dan tuntutan untuk selalu serba sempurna.


11.00 p.m. – Sei Putih 49, Medan

Hari ini badanku serasa melayang, berpijak serasa tak tegak, semua berputar tak jelas, nyut-nyut di kepala semakin terasa. Penat! Semalam tadi aku gak tidur lagi, tersita oleh kerjaan yg semakin hari semakin mencekik. Membuatku tersedak, napasku tersengal.

Sindiran tajam telak menghantamku ketika mereka berbicara mengenai report, yah.. sebuah kesalahan yang aku bahkan sadar akan kehadirannya namun tak sanggup mencegahnya terjadi. Semua kembali ke pundakku, kepadaku kesalahan menimpa. Semua berawal dari keteledoran, ketidaktelitian, kebodohan dan sekali lagi... kapasitasku yang baru sampai segitu saja.

Perih segera menusuk ulu hatiku, rasa ngilu menyebar sampai ke tulang belakang dan seterusnya... aku merintih, diantara pening di kepala dan sengal napasku. Perih dan pening seakan berlomba menyiksaku, membuatku semakin menggigil... buatku teringat akan kamu, dan betapa aku pernah menggiggil di kehangatan pelukmu.


#end of notes# 

How I'm proud to read this, knowing that I didn't just give up right there and then, no matter how I was on the brink of a major breakdown. But hey, I wasn't even allowed to whine, let alone give in. Stand tall, duck down, walk slow, run fast, fly high, fall hard, through and through. No regret.

A very late post, for you and only you, always.

luv,
-onk-