Thursday, August 31, 2006

pamit?

My Corner -- August 31, 2006

Dear Luv,

Kemarin aku pergi ke Jakarta. Sebenernya di Jakarta aku berharap dapat bertemu --walopun sebentar-- dengan dia yang mampu membuatku menengok darimu. Tapi nampaknya dia sedang sangat sibuk sehingga utk menemuiku pun sangat tidak mungkin baginya.

Anyway, entah kenapa aku ingin menceritakan ini padamu, toh kamu gak bakal peduli juga. Tapi sebenernya sudah lama aku ingin cerita soal ini, paling tidak aku sudah berniat untuk "pamit" jika hatiku sudah mau diajak pergi dari kamu. Tapi kesempatan untuk berpamitan gak kunjung tiba, lagipula sekarang aku malah kembali masuk ke dalam labirin yang kuciptakan sendiri, ketika hatiku sudah menunjukkan tanda-tanda mau pergi, logika dan jiwaku malah belum yakin hendak pergi kemana. Maka belom jadilah aku "pamit" padamu. Doakan saja tidak lama lagi aku bisa berpamitan, karena aku sendiri sudah muak dan jenuh berada terus dalam jalan ini, meski bersamamu...

-onk-

Thursday, August 24, 2006

:: Hey... ::

Jogja, 24 Agustus 2006

Dear Luv,

Sudah beberapa bulan terakhir ini aku mencoba mencari sosok lain selain kamu. Satu hal yang dulu tidak mungkin terlintas dalam pikiranku akan sanggup kulakukan. Tapi kamu lihat, aku bisa, aku ternyata bisa. Aku tidak menyangkal kalau ketika dingin malam menusuk dan jiwaku mulai gelisah ingin pergi dari apapun yang kuhadapi, aku masih menekan nomormu meski tidak pernah kusambungkan, aku bersyukur logikaku masih sanggup menahanku supaya tidak menghubungimu. Well, kadang aku memang masih menelponmu, dan suaramu memang masih menjadikan satu hal ajaib bagiku. Sesuntuk apapun, begitu aku mendengarmu menyapaku simply “hey”, duniaku seakan berwarna cerah kembali. Apa aku masih mencintaimu? Aku yakin masih. Tapi aku juga yakin kalau aku sudah tidak lagi jatuh cinta padamu. Bedanya tipis memang tapi sangat berarti bagiku.

Kamu tidak akan menyangka kalau sekarang aku bisa tersenyum pada sosok lain dengan ringan, aku sekarang bisa menatap lekat kedalaman sinar redup yang ditawarkan sosok lain tanpa ragu, dan aku bisa menikmati kehangatan yang dulu pernah kudapat darimu dengan nyaman. Semua itu ketika aku mau membuka hatiku. Luv, maaf jika aku mulai bisa melepasmu.

Tapi percayalah, meski aku mencoba membuka hatiku untuk sosok lain, tetap baru dirimulah yang pernah bisa membuatku melayang dan tak ingin kembali...