Friday, November 17, 2006

wish you were here

November 16, 2006


Dear Luv,

Apa kabar?
Aku udah di Jogja lagi sekarang, tp bsk subuh udah harus pergi lagi ke Medan. Lagi-lagi aku ngulur waktu buat utang nulis soal perjalanan ke Lhoks minggu lalu. Asli enggak sempet. Tapi sebagian besar cerita toh sudah kusampaikan ke kamu meski cuma beberapa pesan singkat pengantar tidur.

Perjalananku kali ini sepertinya bakalan lama, selepas Medan aku akan ke Davao, semoga semua akan baik-baik saja. Terus terang, aku kurang siap dengan tugas kali ini, tp ada daya, sekali lagi aku harus bisa melangkah lebih dari yang kukira adalah batas ketahananku.

How I wish you were here. Berbagi cerita dan tawa denganmu, sungguh hal yang langka akhir-akhir ini. Ya sudahlah, aku mengerti keadaannya.

Tetaplah keras seperti itu, hingga tak satu hal pun mengoyakmu, dan pada akhirnya hanya aku yang dapat memahamimu.


lots of love,
-onk-

Sunday, November 12, 2006

...seharum aroma gurih udang kelong...

Sei Putih -- November 11, 2006


Dear Luv,

Aroma Udang Kelong oleh-oleh Reppa dari Meulaboh yang diungkep oleh kak Maya menebarkan harum gurih ke seluruh sudut rumah. Cacing-cacing di perut menggelitik minta bagian.

Hari ini aku akan pulang ke Jogja, meninggalkan Medan lagi, padahal baru tadi pagi aku tiba di Medan dari Lhokseumawe. Banyak cerita yang dapat dibagi, ditelaah, dipelajari dan ditertawakan bersama.

Lhokseumawe, si angkuh yang menyita banyak energi. Sekian lamanya bergelut denganmu, tapi tak juga dapat kami pahami apa maumu.

Sepertinya aku butuh menyempatkan saat khusus untuk menulis tentang perjalanan ke Lhoks tempo hari. Seminggu disana bukannya membuatku semakin mengenal kota itu, tp sebaliknya, aku malah justru semakin asing dibanding kala pertama menginjakkan kaki disana sekian purnama yang lalu.

Tapi bukan sekarang, udang kelong sudah menanti utk disantap sebelum kaki ini melangkah pulang ke rumah.


kangen selalu,
-onk-

Sunday, November 5, 2006

dalam kerinduan akan hujan

November 04, 2006


Dear Luv,

Apa kabar?
Sekarang dku lagi di Medan, kembali di sambut hujan sore tadi... wangi tanah basah, wangi rumput di halaman... sungguh menyenangkan, meski Medan tidak senyaman Jogja tapi disambut hujan instead of debu dan polusi sudah merupakan tanda yang baik kan? hehe...

I miss you, you know.

Di Medan, entah kenapa aku bisa melihat Jogja (baca: aku di jogja) dan segala isinya lebih jelas, mungkin karena kita berada selangkah di luar jangkauan suatu lingkaran kita sendiri maka kita bisa melihat lingkaran itu lebih jelas, seperti halnya manusia mempercayai bahwa bumi itu bulat. Biasanya, di kota ini pula aku merasa lebih kangen kamu, lebih tau kenapa kangen kamu, dan sebaliknya kenapa lebih baik aku tidak kangen kamu, kenapa kita memang harus berpisah... dan banyak hal lain baik tentang kamu maupun yang lainnya.

Entahlah, banyak yang telah terjadi dan masih banyak pula yang aku yakin akan terjadi..
aku cuma berharap, kehadiranku dan kehadiranmu meski tidak bersama akan tetap memberi arti. Karena ombak dan pasir akan menyatu dengan caranya.

dalam hujan yang membuat tanah mewangi..


luv,
-onk-

Saturday, November 4, 2006

selagi sempat

November 03, 2006

Dear Luv,

Kehilangan seseorang itu memang sangat berat, apalagi kalau seseorang tersebut adalah orang yang sangat kita cintai. Aku memang belum pernah kehilangan orang yang dekat denganku untuk selamanya, tapi menyaksikan bagaimana Bulik menangis ketika mementaskan tarian sebagai wujud apresiasinya kepada Paklik dalam peringatan 100 hari meninggalnya Paklik tempo hari mau tak mau membuatku berpikir ke arah sana. Sungguh mengharukan tarian itu, gamelan yang mengiringi juga sendu selayaknya mewakili kesedihan tanpa batas.

Sedalam itukah ikatan jiwa seorang dengan yang lain dapat terbentuk? Itukah yg disebut cinta?

"Aku ingin mati dalam pelukan suamiku", itu yg akan menjadi jawabanku jika ada yg bertanya bagaimana atau dimana aku ingin menyambut kematianku. Karena akan sangat menyedihkan jika kita melepas kepergian yang tercinta dan tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk itu.

Tarian demi tarian, adegan demi adegan, bait-bait sajak, monolog, bahkan doa telah terpentaskan. Tapi dalam hati, pedih masih terasa ketika kesedihan masih menggantung di udara. Aku pun belum bisa memahaminya. Dalam senja yang membayang, seulas senyum untuk yang tercinta.

Selagi sempat,

-onk-