Thursday, December 14, 2006

sorry to say sorry




December 13, 2006

Dear Luv,

Hujan menetes
dari ada ke tiada, dari tiada ke ada
"apa yang kau bawa?" tanyaku
"tidak ada" jawabnya, lalu mengalir pergi

Kosong. Suatu ketika dia berkata begitu, benarkah kosong?
November kemarin dia ulang tahun, Luv, sudah beberapa waktu ini aku berpikir untuk minta maaf, tapi ternyata aku tidak punya cukup keberanian. Minta maaf untuk apa? tanyamu. Untuk banyak hal yang telah kuperbuat yang menyakitinya Luv. Mungkin kamu tidak mengerti, tapi seperti kamu meminta maaf padaku, seperti itulah seharusnya aku minta maaf padanya. Terutama minta maaf karena aku tidak pernah bisa mencintainya dan tentu saja, dari situ semua berawal.

Jogja sudah mulai hujan, akhirnya. Aku selalu mencintai hujan, bahkan ketika hanya kekosongan yang dibawanya. Hujan sungguh membasuh kegalauan, meskipun mendungnya membuat fragmen memuncak mencapai klimaks ketika petir berkedip dan guntur berteriak. Tapi demi segarnya aroma tanah dan wangi rumput setelahnya, dan hembusan angin yang seakan meminta maaf atas kegalauan yang timbul, aku pun terlena menikmati indahnya hari.

ps: kali ini aku sungguh menyesal belum lagi membuat tulisan tentang Lhoks dan Davao, hmm.. semoga sempat sebelum Natal menjelang. Natal oh Natal... sebuah tulisan atau lebih seharusnya pantas. Ah.. kapan duniaku sepi dan aku sanggup menulis?

I'm not sorry to love you this much,

-onk-

Friday, November 17, 2006

wish you were here

November 16, 2006


Dear Luv,

Apa kabar?
Aku udah di Jogja lagi sekarang, tp bsk subuh udah harus pergi lagi ke Medan. Lagi-lagi aku ngulur waktu buat utang nulis soal perjalanan ke Lhoks minggu lalu. Asli enggak sempet. Tapi sebagian besar cerita toh sudah kusampaikan ke kamu meski cuma beberapa pesan singkat pengantar tidur.

Perjalananku kali ini sepertinya bakalan lama, selepas Medan aku akan ke Davao, semoga semua akan baik-baik saja. Terus terang, aku kurang siap dengan tugas kali ini, tp ada daya, sekali lagi aku harus bisa melangkah lebih dari yang kukira adalah batas ketahananku.

How I wish you were here. Berbagi cerita dan tawa denganmu, sungguh hal yang langka akhir-akhir ini. Ya sudahlah, aku mengerti keadaannya.

Tetaplah keras seperti itu, hingga tak satu hal pun mengoyakmu, dan pada akhirnya hanya aku yang dapat memahamimu.


lots of love,
-onk-

Sunday, November 12, 2006

...seharum aroma gurih udang kelong...

Sei Putih -- November 11, 2006


Dear Luv,

Aroma Udang Kelong oleh-oleh Reppa dari Meulaboh yang diungkep oleh kak Maya menebarkan harum gurih ke seluruh sudut rumah. Cacing-cacing di perut menggelitik minta bagian.

Hari ini aku akan pulang ke Jogja, meninggalkan Medan lagi, padahal baru tadi pagi aku tiba di Medan dari Lhokseumawe. Banyak cerita yang dapat dibagi, ditelaah, dipelajari dan ditertawakan bersama.

Lhokseumawe, si angkuh yang menyita banyak energi. Sekian lamanya bergelut denganmu, tapi tak juga dapat kami pahami apa maumu.

Sepertinya aku butuh menyempatkan saat khusus untuk menulis tentang perjalanan ke Lhoks tempo hari. Seminggu disana bukannya membuatku semakin mengenal kota itu, tp sebaliknya, aku malah justru semakin asing dibanding kala pertama menginjakkan kaki disana sekian purnama yang lalu.

Tapi bukan sekarang, udang kelong sudah menanti utk disantap sebelum kaki ini melangkah pulang ke rumah.


kangen selalu,
-onk-