January 17, 2007
Dear Luv,
Januari sudah melangkah ke pertengahannya dan lihatlah, belum satu resolusipun yang kubuat. Bahkan tidak resolusi tahun lalu kutulis ulang. Bagaimana aku bisa beresolusi untuk melupakanmu padahal kamu ada bersamaku di saat aku menetapkan waktu untuk menulis resolusi itu? Hari itu seharusnya kamu tidak ada di sana, di awal tahun itu seharusnya kita tidak bertemu, sehingga aku bisa masuk ke dunia sepiku dan menulis --sebuah resolusi untuk melupakanmu. Dan tentu saja, percakapan kita tentang dunia kita selepas pertemuan itu --yang seharusnya memudahkanku untuk melupakanmu dan seperti yang selalu kukatakan bahwa memang sudah saatnya kita saling melangkah meninggalkan apapun yang menahan kita-- ternyata justru semakin mengikatku pada sebuah doa yang bahkan tidak berani kuucapkan.
Dunia sepiku, ah entah bergulir kemana dia. Sudah sekian bulan aku terlalu lelah untuk menapaki setapak itu menuju kesana. [ ini menjelaskan kenapa tulisan tentang Lhoks, Davao dan Natal belum jadi kutuliskan ]. Hujan musim ini pun aneh, cepat sekali berakhir --atau belum? Kalaupun dia turun, tidaklah seramah biasanya. Keramahan hujan yang selalu kutunggu, keramahan hujan yang membuatku merindukannya. Dan aromanya setelah itu... Mungkin dunia sepi-ku juga menanti hujan yang ramah sehingga dia akan bergulir keluar dari persembunyiannya dan mendekapku erat.
dan apa resolusimu tahun ini?
Luv,
-onk-
Thursday, January 18, 2007
resolusi tahun ini: membuat resolusi (?)
Thursday, December 14, 2006
sorry to say sorry

December 13, 2006
Dear Luv,
Hujan menetes
dari ada ke tiada, dari tiada ke ada
"apa yang kau bawa?" tanyaku
"tidak ada" jawabnya, lalu mengalir pergi
Kosong. Suatu ketika dia berkata begitu, benarkah kosong?
November kemarin dia ulang tahun, Luv, sudah beberapa waktu ini aku berpikir untuk minta maaf, tapi ternyata aku tidak punya cukup keberanian. Minta maaf untuk apa? tanyamu. Untuk banyak hal yang telah kuperbuat yang menyakitinya Luv. Mungkin kamu tidak mengerti, tapi seperti kamu meminta maaf padaku, seperti itulah seharusnya aku minta maaf padanya. Terutama minta maaf karena aku tidak pernah bisa mencintainya dan tentu saja, dari situ semua berawal.
Jogja sudah mulai hujan, akhirnya. Aku selalu mencintai hujan, bahkan ketika hanya kekosongan yang dibawanya. Hujan sungguh membasuh kegalauan, meskipun mendungnya membuat fragmen memuncak mencapai klimaks ketika petir berkedip dan guntur berteriak. Tapi demi segarnya aroma tanah dan wangi rumput setelahnya, dan hembusan angin yang seakan meminta maaf atas kegalauan yang timbul, aku pun terlena menikmati indahnya hari.
ps: kali ini aku sungguh menyesal belum lagi membuat tulisan tentang Lhoks dan Davao, hmm.. semoga sempat sebelum Natal menjelang. Natal oh Natal... sebuah tulisan atau lebih seharusnya pantas. Ah.. kapan duniaku sepi dan aku sanggup menulis?
I'm not sorry to love you this much,
-onk-
Friday, November 17, 2006
wish you were here
November 16, 2006
Dear Luv,
Apa kabar?
Aku udah di Jogja lagi sekarang, tp bsk subuh udah harus pergi lagi ke Medan. Lagi-lagi aku ngulur waktu buat utang nulis soal perjalanan ke Lhoks minggu lalu. Asli enggak sempet. Tapi sebagian besar cerita toh sudah kusampaikan ke kamu meski cuma beberapa pesan singkat pengantar tidur.
Perjalananku kali ini sepertinya bakalan lama, selepas Medan aku akan ke Davao, semoga semua akan baik-baik saja. Terus terang, aku kurang siap dengan tugas kali ini, tp ada daya, sekali lagi aku harus bisa melangkah lebih dari yang kukira adalah batas ketahananku.
How I wish you were here. Berbagi cerita dan tawa denganmu, sungguh hal yang langka akhir-akhir ini. Ya sudahlah, aku mengerti keadaannya.
Tetaplah keras seperti itu, hingga tak satu hal pun mengoyakmu, dan pada akhirnya hanya aku yang dapat memahamimu.
lots of love,
-onk-