Showing posts with label poema. Show all posts
Showing posts with label poema. Show all posts

Saturday, September 28, 2013

Wednesday, May 1, 2013

Belahan Jiwaku, Apa Kabar?


Dear Luv,

Belahan jiwaku, apa kabar?

Hidup mengalir tanpa bertanya
semerdu cacophony malam ini,
di antara tangisan
terngiang denting dawaimu yang sendu

Bulan diam membagi cahaya
benarkah?

Adakah Engkau disana memandangku?
dalam desah nyanyian bambu di sudut pekarangan
atau lalu lintas padat di perempatan itu

Datanglah kembali saat nanti
Ketika remah kehidupan yang lalu telah tiada
dan peluk erat aku dalam kelelahan jiwa ini.



Luv,
-onk-

note: just an old piece from my past life :)

Monday, March 30, 2009

a Turkish proverb

Dear Luv,

A Turkish proverb said:

Coffee should be black as hell,
strong as death and sweet as love.



luv,
onk-

Sunday, May 25, 2008

old memories... happy birthday to me!


Dear Luv,

It's May 25 and tomorrow will be my birthday. Well yes, am still in Nias instead of back home as what I've planned. But hey, maybe there'll be something good of being here on my birthday.

I wrote a reflection poem last three years, or it was last two years? oh well, here's the piece:

Sahabatku,

Pagi ini dku bangun dan menangis. Sungguh awal yang buruk untuk sebuah hari ulang tahun.
Tapi demi waktu yang berlalu dan kisah-kisah yang telah lewat, kesedihan pun hadir.
Album foto yang usang menyimpan sedikit saja kenangan,kesedihan untuk yang terlupakan dan kan hilang
Kesedihan untuk wajah-wajah lama dan akrab namun pelahan memudar.
Pita-pita kaset rekaman suara masa lalu mulai bernada sumbang... kesedihan untuk yang tak lagi terdengar
Kesedihan untuk tawa ceria dan sumpah serapah yang tak sempat terekam.
Mawar merah kado dari masa lalu di sudut meja kamar telah kaku menghitam... kesedihan untuk hutang lama yang beku di dasar hati
Kesedihan untuk setiap kata-kata yang tak sempat terucap
Kesedihan untuk setiap perbuatan yang tak kunjung dilakukan
... dan kini semua telah terlambat.
Kesedihan untuk penyesalan yang sia-sia
Kesedihan untuk setiap momen ganjil yang pernah terjadi namun tak sempat menangkap maknanya

Pagi ini aku menyadari bahwa pada akhirnya jiwa kanak-kanak itu pun akan semakin tak tersentuh.
Harga yang mahal untuk kedewasaan yang bagiku semu.
Karena aku memang tak pernah mau dewasa.
Namun karena kalian, aku belajar...
Bersama kalian, aku belajar tentang dunia asing ini dan hal-hal ajaib yang menyertainya

Kekonyolan demi kekonyolan yang kulakukan bersama kalian mungkin akan terlupa, namun keceriaanku ini berawal dari sana
Perih luka yang kubuat bersama kalian mungkin telah sembuh, namun bekasnya masih melekat di tubuh dan jiwaku
Segala nasehat kalian mungkin tidak semua kuingat, namun tanpanya aku takkan jadi seperti ini
Banyaknya pertentangan dan perdebatan dengan kalian pastilah menyakitkan, namun dengan itu aku belajar menjadi berani
Kesalahan demi kesalahan tentu saja menjengkelkan, namun dari situ aku belajar untuk minta maaf
Kebodohan dan ketololan buatku jujur, memang aku tidak sempurna dan masih harus terus belajar dan berkembang
... bersama kalian kah? Mungkin tidak. Karena suatu saat pun kalian akan berlalu. Namun jika masih ada kesempatan, maka bolehlah rajutan ini diteruskan, sampai bola benang yang terakhir.

Pada hari ini...
Ketika ucapan dan peluk hangat telah kuterima, aku pun tersenyum.
Menyadari bahwa semua harus terjadi.
Yang hilang takkan tergantikan dan yang datang tak mungkin menggantikan
Begitupun kebahagiaan memiliki kalian, takkan menggantikan kesedihan kehilangan mereka
Dan kesedihan tiadanya mereka takkan bisa mengusik kebahagiaan adanya kalian
Setiap hal memiliki peran
Setiap momen memiliki makna
Setiap detiknya memiliki arti
Membentukku disana-sini, menambahkan rasa untuk cita dan cinta
Adalah keajaiban, memiliki keduanya. (sometimes miracle just doesn't work, so I changed into: Adalah berkat, memiliki keduanya.)
Terberkatilah aku yang memiliki banyak pilar 'tuk bersandar, dan pilar-pilar itu adalah kalian.

Untuk semua sahabat hidupku, terima kasih atas 24 tahun (hmm... it's xx years old now :D ) yang takkan bisa kulewati tanpa kalian.

Peluk sayang,
-onk-


Well I guess for the sake of old memories I put it here for you. Will I spend another year in my life to love you still?

luv,
-onk-

Monday, February 25, 2008

:: dalam dekapmu ::

Dear Luv,


mendung merapat manja
ketika angin resah menyapa.
kenapa?
sudah habiskah kata,
sehingga tak lagi kita bercerita.

hujan belum lagi tiba,
tapi kelam menarikku lebih dulu
menuju kehampaan kala.
diamlah...
mari nikmati pelukan sepi.



luv,
-onk-

Monday, November 26, 2007

:: hujanlah...::

Dear Luv, matahariku yang (kuharap) menerangi duniaku

Matahari,
bukan aku tak ingin sinarmu,
hangatmu pun kucinta.

Hujan memang mengaburkanmu,
tapi aku suka hujan,
biar segar udara duniaku,
dan penuh bak airku.

Menari anganku bersama hujan,
belai mendung yang buatku rindu.
...ah!

Matahariku sayang, mengalahlah sejenak,
biar hujan turun dengan riang,
untuk membasuh mimpi yang kekeringan.


luv,
-onk-

Friday, November 2, 2007

:: ...sepi... ::

November 01, 2007


Dear Luv,


tik...tok...tik...
mengantuk menunggu
uugh... kenapa hari ini sepi?

diam...
tenang...
aaargh! aku menjerit sudah.
apakah kamu mendengarnya?

matamu...
senyummu...
ada apa di situ?

pikiranmu...
rasamu...
bolehkah kutahu?


luv,
-onk-


ps: kerjaan masih banyak tp pikiranku sudah di kasur, hiks... ngantuk banget!

Tuesday, October 9, 2007

kok masih kangen?

Bak Air -- October 08, 2007


Dear Luv,
Dear Matahariku,


Apa kabar?
Apakah sepi kalian bertemu sepiku?


Matahariku,
Ketika kangen aku menatapmu,
menantang terikmu.
Ketika sebalku datang, biar hujan mengaburkanmu
Biar saja, biar penuh bak airku.
Hingga aku punya cukup air untuk membasuh rindu.
Supaya tak terlalu sedihlah aku.
Karena kamu tidak peduli.
Diamkanku di sini,
di kala yang berbeda.

Dan biarkan kangen membunuhku pelahan
Kamu kejam, jika demikian.
Meski pedih, jeritan takkan kusampaikan.

... dan aku akan mencarimu Luv, untuk bercerita betapa matahari telah melukai.


kangen banget!
luv,

-onk-

Thursday, August 2, 2007

It's damn hot!

Banda Aceh -- August 02, 2007


Dear Luv,
Dear matahariku,


Laut menepi sudah,
telah sampai aku pada asalku mencintaimu.
Diam pada kala,
menanti suatu tanda.
Tak bisa berhenti,
meletakkan mimpi pada yang tak ada.
Rasa menyiksa,
jiwa tak rela.
Menatap nanar pada yang tercinta.
...


Setelah kedinginan selama 3 hari 4 malam di Medan saat ini dku lagi kepanasan di Banda Aceh. Fuih! Jd gaya muslimah dengan cardigan dan kerudung (ala kadarnya) brukut rungkut hanya berlaku a couple of minutes saja padaku, which is saat keluar dari pengambilan bagasi sampai parkiran mobil dan dari halaman mess sampai masuk ke rumah; saat mengetik email ini segala atribut itu sudah semampir manis di sandaran kursiku wkqkqkq.... Beneran panas! Untung kemaren gak ngikutin saran Aggie (ex-partner yg resign this July and the source of all this misery) utk beli sebuah jilbab instan langsung pakai yg cukup sumuk nampaknya dan very-terribly sumuk pada kenyataannya ketika dipakai. Dan aku nampak sangat aneh dalam benda itu, sejujurnya knapa aku tdk membelinya. Kerudung will be fine but not jilbab, please. Tp aku mengikuti sarannya utk membeli manset lengan sepuluhribuan yang tidak enak dipakai dan tidak ada rencana akan kupakai juga tp baik utk jaga2 siapa tahu butuh secara kaos2ku lengannya cuma basa-basi style alias teramat pendek utk standard norma kebusanaan di Aceh --yang tidak kumengerti sebenarnya mengapa demikian, what was their thinking when releasing such rule, anyway? I simply don't get the point.

Medan dingin, wonder why. Biasanya kota itu puanass dan debu-nya bikin infeksi saluran pernafasan. Have I told you that my partner resigned, yep, dku serah-serahan kerjaan darinya padaku. Phew! Secara resmi dku lah yang akan menggantikannya mengurusi tetek bengek di Medan dan entah di mana lagi aku akan ditempatkan. Which means, more travelling more works less fun and less rest. Yet, the funny thing is the boss mengeluhkan keberadaanku yang puluhan (atau ratusan ya?? mbuh ah) ribu kilometer dari kantor Jogja (baca: her), what was on her mind when signing my Surat Tugas ya?? Belum lagi deadlines dan permintaannya utk beberapa somehow impossible tasks hehe... (Linduts udah biasa kan?). Dengan banyaknya load kerjaan ini, I really don't need her complaining about where I am right now, or just simple say a word to send me home and I'll gladly pack my things and fly to Jogja --that'll be much better. Apa coba kebahagiaanku berada jauh dari rumah, Nero, jagung bakar, sketsasinema, togamas dan matahariku?

...
It's been my 4th day in Banda Aceh, I've got the beat by the way. It's a nice place --if you don't mind with the fuckin'hot weather. Dan secara dku masih harus mengerjakan beberapa hal with my compie, tinggalah aku sendirian di kantor sementara teman-teman menapaki dunia luas di luar sana hiks...

Well, sebenernya gak sedih-sedih amat, pagi ini dapat link ke game tentang disaster risk management --yang katanya community based, pdhal enggak sama sekali wekqkqq... ada aja yg badan-badan internasional itu bilang. The game is actually quite fun --and boring, yah dku masih failed in the mission sih-- tp cukup memberi gambaran bahwa budget tetep harus gede hehe...

Hmm... lagi males kerja, tp kerjaan banyak. Lagi pengen nulis tp gak nyaman juga karena ditunggu kerjaan.. fuih, kerjaan emang biang keladinya.

Aaarrgghh! Kangen... hiks. Kangen kamu, kangen matahariku.


Dalam kerinduan ini, aku memaki terik-mu!
Luv,

-onk-

Wednesday, April 18, 2007

Nadirku Ada Padamu?

My Corner -- April 18, 2007


Dear Luv (and Lust),

Today dku berhasil membuat kemeja putih Graphis kesayanganku yang baru kupakai dua kali yang kubeli dari keranjang obral "Beli Satu Dapat Dua" kesangkut di kancing pintu kamar mandi dan hasilnya adalah robek di bagian lengan. CRAP!!
Dan hari ini hari memakai rok, so here I am, in my PPL-costume. Dan besok adalah hari untuk mengenakan baju seksi. Waah... definisi seksi kan bebas, bisa apa saja kan? Jd tak perlu mempertontonkan aurat kan?

Sebuah puisi lagi dari Latrina:

Kebekuan Nadir

Malam tak seperti malam lalu
Sesak beku selimuti ari
Di luar menyengat
Memecah dingin sebuah angan

[Hei, penggali kubur!]
Dangkal saja kau gali kuburnya
Agar bila sadar gelap ini
Hujan mampu menetesi
Biar cair beku otaknya

Menggerayang malam (esok)

-- credit to Latrina --

dan membuatku berpikir, sedangkah aku di nadirku?

jika dengannya aku beku
jika tanpanya aku hilang
iakah nadirku?

Aku sedang enggak semangat bekerja dan memang kalau mau jujur sharing dan penguatan spiritualitas seperti yang diusulkan mas Bay perlu adanya. Tempo hari yang kukatakan itu jujur, meski tidak adil bagi lembaga karena aku memang belum melakukan dan belum mencoba memperjuangkannya. Rasa frustasi dan jenuh ini apakah hanya keluh kesah ku semata? Entahlah, kadang saking lelahnya aku ingin berhenti, tapi jika aku berhenti apa yang akan kulakukan untuk penuhi credo-ku?

dalam keresahan atas jalan ini, akankah kita sepaham?

merindukannya!
-onk-

Tuesday, April 3, 2007

Torehan Hari (by Latrina)

my corner -- April 03, 2007


Dear luv,

Ada sebuah puisi lagi dari Latrina yang layak disimak:

Torehan Hari

Maaf saja kalau jari jemari ini
menganggumu,
mengusik tidurmu,
memutar otakmu,
menggelitik liarmu,
memupus harapmu,
Hanya cengkeram jemariku (akan)
Mengendur beriring gemulai molek tubuhmu

--credit to Latrina--


untuk puisi yang kemaren dku bisa menjawabnya langsung, tapi kali ini, jiwaku serasa beku, tak mampu menarikan indah kata-kata. Mungkin karena rapat panjang soal SDM barusan.

Dua sahabat kembali ke Jogja. Hari-hari akan kembali ramai, meriah seperti pasar malam yang baru saja usai. Tidak kusangka, kami sudah bersahabat sekian tahun. Sungguh menyenangkan.

Ah... aku masih saja berpikir. Dan entahlah, kini semuanya semakin datar dalam cinta kami yang tiada berujung.


kecewa dengan telur dadar malam ini!
luv,

-onk-

Tuesday, December 6, 2005

The Three Oddest Words

Dear Luv,
This is one of my favorite poems:

The Three Oddest Words

When I pronounce the word Future,
the first syllable already belongs to the past.

When I pronounce the word Silence,
I destroy it.

When I pronounce the word Nothing,
I make something no non-being can hold.


By Wislawa Szymborska
Translated by S. Baranczak & C. Cavanagh© Wislawa Szymborska, S. Baranczak & C. Cavanagh

Friday, July 29, 2005

terserah kita

Ada saatnya,
ketika sayap telah kokoh
ketika fajar telah merekah
ketika jalan telah terbuka...
untuk kita

Ada pilihan,
antara cita dan tuntutan
antara cinta dan keadaan
antara satu dan lain hal...
terserah kita

Ada kalanya,
kesedihan karena kehilangan
kerinduan karena kabar menyapa
kebahagiaan karena rasa yang dibagi

Ada apapun itu,
kita yang hidup
kita yang menjalani
semua terserah kita,
karena segala yang ada adalah pilihan