- My Corner -- September 16, 2006
- Dear Luv,
Huwaa... seneng deh bisa ketemu kmu kemaren siang. Gak nyangka, tiba-tiba kmu muncul begitu aja di kantor. Tau gak, dku baru balik dari Medan. Sebenernya sih blom boleh balik Jogja sama Manager di Medan, tp gimana kerjaan di Jogja kan kudu rampung juga.
Kemaren waktu di Medan dku sempet kaget, loh kok hujan?! hehe... sama hujan aja kaget. Lha iya, soalnya Jogja udah lama gak punya hujan. Jogja lagi dingin banget akhir-akhir ini. Makanya pas di Medan disambut hujan, huwaa.. seneng deh.. jadi keceh di halaman mess. Walopun udah masuk musim hujan, Medan masih panas, panaass terus, debu, polusi, macet, etc tp sekarang setelah sekian kali ke kota-nya orang Batak itu, dku jd rada biasa, enggak kagok lagi. Dulu, hmm.. selalu misuh klo lg jalan di lalu-lintasnya yg gila. Pokoknya neh, kalo di Medan: lampu nyala merah orang malah tancap gas, giliran lampu nyala hijau orang harus pelan-pelan. Dulu dapetin SIM-nya pada nembak semua apa??
Pernah satu kali dku sama temen boncengan naek motor keliling Medan siang-siang panas amit-amit gak pake helm. Besoknya, dku kena ISPA hahaha... debu dan polusinya itu loh, gak kuat deh.
Oya, kemaren pas pulang ke Jogja dku sebelahan sama satu Kakek. Dia mau ke Jakarta. Orang Batak asli rupanya. Nah, kalo Lion kan model refreshment-nya cuma dus-dus-an doank, mungkin karena 2 jam flight makanya dikasih pula teh/kopi cuma dihantar sama pramugari-nya pake nampan enggak pake troli. Pas lewat di bangku kami, dku gak pesen apa-apa dan si Kakek tadi enggak ngeh. Sekitar seperempat jam kemudian, dku lagi tidur-tidur ayam tiba-tiba dibangunin sama Kakek.
"Kenapa pula kita tidak dikasih kopi?" tanyanya.
Dku jelasin, kalau kopinya udah lewat tadi.
Kakek tadi gak terima. "Kenapa tidak kau bilang?" bentaknya dengan logat Batak yg khas.
Mati aku.
peluk chayank!
-onk-
Saturday, September 16, 2006
aku dan Medan
Thursday, August 31, 2006
pamit?
- My Corner -- August 31, 2006
-
Dear Luv,
Kemarin aku pergi ke Jakarta. Sebenernya di Jakarta aku berharap dapat bertemu --walopun sebentar-- dengan dia yang mampu membuatku menengok darimu. Tapi nampaknya dia sedang sangat sibuk sehingga utk menemuiku pun sangat tidak mungkin baginya.
Anyway, entah kenapa aku ingin menceritakan ini padamu, toh kamu gak bakal peduli juga. Tapi sebenernya sudah lama aku ingin cerita soal ini, paling tidak aku sudah berniat untuk "pamit" jika hatiku sudah mau diajak pergi dari kamu. Tapi kesempatan untuk berpamitan gak kunjung tiba, lagipula sekarang aku malah kembali masuk ke dalam labirin yang kuciptakan sendiri, ketika hatiku sudah menunjukkan tanda-tanda mau pergi, logika dan jiwaku malah belum yakin hendak pergi kemana. Maka belom jadilah aku "pamit" padamu. Doakan saja tidak lama lagi aku bisa berpamitan, karena aku sendiri sudah muak dan jenuh berada terus dalam jalan ini, meski bersamamu...
-onk-
Thursday, August 24, 2006
:: Hey... ::
- Jogja, 24 Agustus 2006
- Dear Luv,
- Sudah beberapa bulan terakhir ini aku mencoba mencari sosok lain selain kamu. Satu hal yang dulu tidak mungkin terlintas dalam pikiranku akan sanggup kulakukan. Tapi kamu lihat, aku bisa, aku ternyata bisa. Aku tidak menyangkal kalau ketika dingin malam menusuk dan jiwaku mulai gelisah ingin pergi dari apapun yang kuhadapi, aku masih menekan nomormu meski tidak pernah kusambungkan, aku bersyukur logikaku masih sanggup menahanku supaya tidak menghubungimu. Well, kadang aku memang masih menelponmu, dan suaramu memang masih menjadikan satu hal ajaib bagiku. Sesuntuk apapun, begitu aku mendengarmu menyapaku simply “hey”, duniaku seakan berwarna cerah kembali. Apa aku masih mencintaimu? Aku yakin masih. Tapi aku juga yakin kalau aku sudah tidak lagi jatuh cinta padamu. Bedanya tipis memang tapi sangat berarti bagiku.
- Kamu tidak akan menyangka kalau sekarang aku bisa tersenyum pada sosok lain dengan ringan, aku sekarang bisa menatap lekat kedalaman sinar redup yang ditawarkan sosok lain tanpa ragu, dan aku bisa menikmati kehangatan yang dulu pernah kudapat darimu dengan nyaman. Semua itu ketika aku mau membuka hatiku. Luv, maaf jika aku mulai bisa melepasmu.
- Tapi percayalah, meski aku mencoba membuka hatiku untuk sosok lain, tetap baru dirimulah yang pernah bisa membuatku melayang dan tak ingin kembali...
-