Monday, December 14, 2015

An Old Ghost

Dear Luv,


It's been awhile, I know.
I wish you a good life, as always.

Ghost. One scary word, at least for one of us. The ghost from the past, or is it still lingering to the present yet invisibly? Waiting for the right moment to come and haunt me again.

I should have known.

The ghost came suddenly, but afraid I was not. I was ready. The Ghost tried to haunt me, again and again, but now o know how to deal with it.

Try as you may, am no longer at your mercy, dearest Ghost.


wish you were here to witness this oblivious moment,

-onk-

Thursday, January 15, 2015

Sebuah Sajak Sia-Sia



Dear Luv,

Shalom Aleichem,

Pagi ini hujan turun lagi, setelah beberapa waktu yang lalu matahari memancarkan sinarnya dengan angkuh. Entah kenapa sudah beberapa waktu lamanya hujan tidak lagi ramah, atau mungkin itu hanya perasaanku saja?

Hujan selalu mengingatkanku pada yang telah lalu, dirimu, dirinya dan banyak hal lainnya. Semua yang berlalu seakan kembali menari bersama hujan, turun ke tanah lalu mengalir pergi. Dia yang lalu pernah berkata bahwa itu adalah sajak ke-sia-sia-an. Tapi bukankah ke-sia-sia-anlah yang mengajarkan kita tentang ke-ada-an?

Aku tahu aku ada ketika ke-ada-anku tidak menjadi sia-sia. Entahlah mungkin aku salah. Dia yang lalu meskipun telah mengalir pergi bukanlah sebuah sia-sia, meskipun ketika ada kami bagi dia yang lalu adalah sia-sia.

Apakah sekarang kamu tersenyum, Luv? Atau kamu justru mentertawakanku yang masih kembali menulis tentang ini?

Mari kita berbincang kembali tentang hujan, meskipun menjadi sia-sia. Lalu kembali tertawa bersama di tengah ejekan hujan.

Mencintaimu adalah (bukan) sesuatu yang sia-sia.

Luv,
-onk-

Thursday, October 16, 2014

Little Scraps of My Old Broken Mind


Dear Luv,

Just found this old note, little scraps of my old broken mind. Terserak begitu saja di antara tulisan usang lainnya, but hey, gotta love this one. So yeah, this is for you, enjoy Luv.


September 20, 2005
03.00 p.m. – Room 428, Hotel Polonia, Medan

Tubuhku serasa tertusuk-tusuk tatkala air panas mengucur deras dari shower. Ngilu. Entah karena lantai kamar mandi yang licin atau memang tak lagi aku seimbang berdiri, serasa limbung tubuhku setiap kupejamkan mata menikmati kucuran hangat.

Di luar sana terserak berkas-berkas kerjaan menutupi kasur sampai ke karpet tebal kamar hotel ini. Pemandangan dan hiruk pikuk lalu lintas kota Medan terkalahkan oleh aktivitas di kamar ini. Kemarahan atasan sudah sampai ke ubun-ubun, ditambah ketegangan demi ketegangan muncul dalam tiap nada suara rekan-rekan. Kami sedang mencoba melewati sebuah fase audit, yg nampaknya tidak semakin mudah.
           
Aku melangkah berat keluar dari kamar mandi, kesegaran sesaat setelah mandi betul-betul hanya sesaat. Lenyap begitu saja berganti kelelahan yang teramat ketika kudapati wajah-wajah lelah dan penuh ketegangan di hadapanku. Tidak mudah memang bekerja di bawah tekanan dan tuntutan untuk selalu serba sempurna.


11.00 p.m. – Sei Putih 49, Medan

Hari ini badanku serasa melayang, berpijak serasa tak tegak, semua berputar tak jelas, nyut-nyut di kepala semakin terasa. Penat! Semalam tadi aku gak tidur lagi, tersita oleh kerjaan yg semakin hari semakin mencekik. Membuatku tersedak, napasku tersengal.

Sindiran tajam telak menghantamku ketika mereka berbicara mengenai report, yah.. sebuah kesalahan yang aku bahkan sadar akan kehadirannya namun tak sanggup mencegahnya terjadi. Semua kembali ke pundakku, kepadaku kesalahan menimpa. Semua berawal dari keteledoran, ketidaktelitian, kebodohan dan sekali lagi... kapasitasku yang baru sampai segitu saja.

Perih segera menusuk ulu hatiku, rasa ngilu menyebar sampai ke tulang belakang dan seterusnya... aku merintih, diantara pening di kepala dan sengal napasku. Perih dan pening seakan berlomba menyiksaku, membuatku semakin menggigil... buatku teringat akan kamu, dan betapa aku pernah menggiggil di kehangatan pelukmu.


#end of notes# 

How I'm proud to read this, knowing that I didn't just give up right there and then, no matter how I was on the brink of a major breakdown. But hey, I wasn't even allowed to whine, let alone give in. Stand tall, duck down, walk slow, run fast, fly high, fall hard, through and through. No regret.

A very late post, for you and only you, always.

luv,
-onk-

Wednesday, September 3, 2014

Veronika yang Hidup

Dear Luv,

Semoga hidup memberikan yang terbaik bagimu.

Terlalu lama sudah jiwa ini tidak menyapamu. Aku baik, little ups and downs here and there, but am fine, as always. Hidup tidak selalu sempurna, but it's always beautiful, defiantly.

Did I miss u? I did. I always do and always will.

Beberapa bulan terakhir aku berinteraksi dengan beberapa orang dengan kondisi yang membuat mereka harus bergantung dengan pengobatan seumur hidup. Kami bekerja bersama, kami berteman, kami bersahabat. Aku belajar tentang kehidupan lebih banyak lagi, lebih dari ketika aku belum bertemu dengan mereka. It was amazing that I learned so much dari mereka yang bahkan tidak bermaksud memberikan pelajaran.

Hal terpenting adalah aku belajar tentang bagaimana bersyukur. Really, I'm grateful with what I have. Apa yang tidak aku miliki, tidak akan mengurangi rasa syukurku. Sungguh, betapa banyak kecerobohan yang telah kulakukan dan bisa saja membawaku ke jalan hidup yang lain, tapi kehidupan masih begitu baik padaku. Apa alasanku untuk tidak bersyukur?

Hidup itu menyimpan misteri. Di saat aku mulai melupakan Veronika, they give meaning to Veronika a whole new level. And I feel so blessed and proud to know them, Veronika yang hidup.

Selalu berharap untuk melanjutkan interaksi ini bersama mereka, sampai entah kapan. Selamanya bila mungkin? Hanya keajaiban yang bisa menjawab misteri waktu. Ingin menari bersama cahaya itu, mencari makna dari setiap berkasnya.

Dan bersama mereka aku kembali diam dalam pelukan sepi, berharap kamu di sini bersamaku, bersyukur atas hidup dan kehidupan.

... and let's our minds open, evolve and produce.

luv,
-onk-

Friday, March 28, 2014

Marriage by Society

Dear Luv,

Semoga hidup menjagamu dengan baik.

Hari ini seorang gadis menikahi kekasihnya, hampir semua orang akan melihat hari ini sebagai hari yang bahagia. Well, we can say that, in a way.

Note the key word: hampir semua orang. Yeah, what can I say, aku sering termasuk ke dalam sepersekian orang that beg to differ in few other things.

The girl, who married her lover, is pregnant. She is about six month long and  had kept it a secret until about a week ago. Hmm...

Tapi kenapa? Takut, malu, tidak ingin menghadapi kenyataan dan/atau alasan lain yang bermain dalam pikirannya. Well, in a society like theirs, all those reasons are valid. She is just a year or two over twenty, just graduated from college and unemployed. Her lover isn't even graduated, at the same age or maybe even younger, he is also unemployed and scared shitless with the situation.

As I learned about them from our short encounter through people around us in these two days of helping her with the wedding, they're simply adorable. Both of the bride and groom are young and naive. They're both scared and really, this wedding thing is probably the bravest thing they've ever done until now. But, taking care of their coming child will top that, obviously.

Why did I say so? Because they have through every steps in her pregnancy together. The boy religiously goes to every appointment with the obsgyn. The girl is taking care of her unborn baby very well. It's like they live in their own exclusive world and so damn afraid that if they tell others their little perfect world will fall apart.

But hey, reality sucks guys. As it is written with an invisible ink in the norm and codes of their society, but everyone must obey nonetheless, they have to enter marriage to have good closure before the society's eyes. Or else, everyone in their society will judge and call their unborn child as a little bastard when the baby is born outside marriage. If you know what I mean.

So they finally told their folks and finally got married this morning. What's with the above keyword? The groom has only one person by his side. No friend, no relative, not even his parents and family attended.

He steps into this marriage thing alone. Granted, with his girl and unborn child, but he is actually alone. If you know what I mean.

No one should put the blame and judgement to them. They love each other, they're both adult, legal age, maybe irresponsible at first, but the future of their life and the coming little one is what matters, nothing else. Even if they decide to not enter marriage, that should none of anyone's concern. They've proven that they love each other and try their ass off to be a dedicated parents for the unborn child. For me, that's enough, as long as they keep doing what's best for the little one that'll see the world in less than few months.

Go to hell for those hypocrite, arrogant and selfish jerks. Just do us a favor, pack your butt and sod off.

Let's open our minds to evolve and produce.

Luv,
-onk-

Saturday, November 30, 2013

Happy Ever After (?)


Dear Luv,

It’s been a while, I know. Does life treat you good? I hope so.

Sebuah percakapan dengan seorang teman baik beberapa hari yang lalu telah mengingatkanku padamu. Seakan mendengar denting lonceng gereja tua dari kejauhan. Seperti memanggil, seperti meminta, seperti menegur. Tapi sebelum aku sempat menoleh, denting itu pelahan menghilang, tertelan deru angin, terhantam debur ombak di kejauhan, terkikis bara mentari.
Faded and then gone. Kemudian aku harus bertanya, apakah itu nyata atau hanya imajinasiku belaka?

Kemudian yang tersisa adalah kerinduan. Apakah aku masih merindukanmu? Apakah aku masih mencintaimu?

Cinta adalah sesuatu yang selalu punya cara untuk mengusik ketenangan dari keheningan jiwa. Apa yang cinta inginkan, seringkali kita tidak pernah tahu? Apakah suatu saat kita akan tahu? Kebanyakan orang tidak ingin tahu.

Love is pain. I knew that much. Tapi kenapa selalu ada jiwa yang terjebak dalam ilusi cinta? Apakah mereka bisa keluar? Apakah mereka ingin keluar? Entahlah. Mungkin seperti berada di dalam labirin, berputar-putar dan akhirnya tersesat. Tapi setelah mereka berhasil keluar, they will enter it again in a blink of an eye. Maybe, because being alone is hurt even more.

But who am I to judge, or even to complain? What do I know about love? All I know is to love you. No regret, no hope, no pain.


“If happy ever after did exist, I would still be holding you like this. All those fairytales are full of shit. One more stupid love song I’ll be sick”
-- Payphone by Maroon 5 --


... and let our minds open, evolve and produce.
Luv,
-onk-

Saturday, September 28, 2013

Wednesday, May 1, 2013

story 2: kunjungan

Hari sudah malam saat kamu kembali mengetuk pintuku. Entah apa yang selalu membawamu kemari. Aku tidak pernah bertanya, tidak pernah pula mengusirmu.

Sendirian?
Kamu mengangguk sembari menyesap kopi pahitmu. Hitam.

Kita hanya diam, duduk berhadapan dalam pelukan malam. Di luar sana hujan turun semakin deras.

Belahan Jiwaku, Apa Kabar?


Dear Luv,

Belahan jiwaku, apa kabar?

Hidup mengalir tanpa bertanya
semerdu cacophony malam ini,
di antara tangisan
terngiang denting dawaimu yang sendu

Bulan diam membagi cahaya
benarkah?

Adakah Engkau disana memandangku?
dalam desah nyanyian bambu di sudut pekarangan
atau lalu lintas padat di perempatan itu

Datanglah kembali saat nanti
Ketika remah kehidupan yang lalu telah tiada
dan peluk erat aku dalam kelelahan jiwa ini.



Luv,
-onk-

note: just an old piece from my past life :)

Monday, October 8, 2012

Petrichor

Dear Luv,


It's been awhile. Life's good, it's always good. I made many compromises, adjustments, apologies and many others. Life is not perfect, well not always :) yet life is beautiful, as always.


Yes, my child is fine, he's my treasure. He's the love of my life. Dia adalah gundukan permataku.  Dan ya, dia juga yg membuatku melakukan banyak hal, merubah banyak sisi dari pemikiran, sudut pandang, perbuatan dan singkatnya... hidup dan kehidupanku.


Sungguh, banyak hal terjadi tidak hanya padaku tapi juga sekitarku, marriages, travels --yang dekat dan yang jauh--, friendship --new and old--, birthdays and even goodbyes. Bumi berputar, tapi bulan juga berotasi. We're not alone, and definitely not the only one.

Oh ya, siapa yang mengira kalau tidak sampai sehari setelah matahari memanggang bumi, hujan turun dengan teramat deras, hanya sebentar, tidak sampai setengah jam, kemudian matahari kembali menunjukkan kekuatannya. Tapi sesaat setelah hujan berhenti dan .. tidak tidak, tidak hanya sesaat tetapi beberapa jam setelah hujan itu turun, meskipun matahari kembali terik, life seems perfect. Tentu saja, karena aroma tanah yang wangi, wait seseorang pernah memberitahuku, jadi setelah hujan turun, tanah, ilalang, rerumputan akan mengeluarkan bau wangi yang khas, senyawa ini dinamakan 'petrichor'. Hmm...

Kehidupan juga punya 'petrichor' yang beragam, sesuatu yang khas dan sederhana yang menyejukkan perasaan, menentramkan hati, memabukkan jiwa. Tepuk tangan meriah selepas pertunjukan, rasa pahit manis dari tetes kopi terakhir di cangkir, hangover di pagi hari setelah ... ah!

Dan begitu pula hidupku, begitu banyak 'petrichor' yang muncul, menghibur, menentramkan... kemudian memudar di udara.


Jadi apa saja petrichor dalam hidupmu?

Luv,
-onk-

Monday, July 18, 2011

an egg sandwich on a back seat of a taxi


Dear Luv,


As I am writing this, I remember my breakfast this morning, it was an homemade egg sandwich. Yummy. And my stomach started to growl again, ha! I enjoy writing as much as I enjoy food and travelling. In many ways it's interesting, though sometimes tiring, boring and feel like I had enough. Perhaps that the reason why I haven't written much lately.


Speaking of travel, I traveled last week. Only a short trip to a place where modernity, logic and mature blend, and I was wondering of post-modernity while going to that place. Not the shortest trip, neither a comprehensive travel. The only comprehensive conversation happened on my way back to the airport. The 45 minutes talk on the back seat of a taxi brought my mind away to pages of post-modernity somewhere in the library's books.


The driver, a Chinese-Buddhist middle-aged man. He talked much about pluralism in his country and how he defined himself as a Chinese-Buddhist man in the world of modern-plural-advance minded small country. As long as I could remember, he talked more than I did. It was good, though. Everything is neat, clean, rules are obeyed, people seem satisfy with all circumstances, and things are on its each tracks and speed. 


The plurality mixed, mingle but not blend. They are who they are. No border, but race and ethnic define. Life is on harmony. It's sandwich. But hey, it seems like a dry and crisp life, Red's Dad said. Flat, I said. Well, everything on its price. Nothing is free. 


Does it what people wanna have in the citizenship life and our relation to our state? Rules and regulations are obeyed, low criminality, neat and orderly living, high income, good job, good housing and clothing... what's missing from the list? What are we thinking when quality of life comes across our mind? What will we put as criteria and priority?


The conversation ended as he gave me the bill. The words are echoing on my way back home: nothing is free...


For now I'll say: a delicious healthy egg sandwich and a cup of hot green tea will complete my qualified Monday morning. A qualified Monday morning, of course, includes Red waking up late, ha! And I must add here that I grilled the onion (not the usual), to gain its juice. Things need more work sometimes to return its best quality.




...and let our minds open, evolve and produce.
bon appetit,


-onk-

Monday, May 9, 2011

Doris Day - Que sera sera - with Lyrics

Que Sera Sera


When I was just a little girl
I asked my mother, what will I be
Will I be pretty, will I be rich
Here's what she said to me.
Que Sera Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours to see
Que Sera Sera What will be will be.
When I was young,
I fell in love
I asked my sweetheart
what lies ahead
Will we have rainbows,
day after day
Here's what my sweetheart said.
Que Sera Sera Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que Sera Sera What will be will be.
Now I have children of my own
They ask their mother what will I be
Will I be handsome will I be rich
I tell them tenderly.
Que Sera Sera Whatever will be, will be
The future's not ours to see
Que Sera SeraWhat will be will be.

Monday, January 31, 2011

candi plaosan


Dear Luv,

Di suatu sore yang hangat, dalam perjalanan pulang dari kantor, timbul sebuah ide untuk menuliskan hal-hal menyenangkan yang kulihat dalam perjalanan menuju ke kantor dan menuju pulang ke rumah. Lumayanlah, karena perjalananku cukup panjang, sepertinya bakalan ada hal-hal menarik untuk diceritakan. Ahay, karena ini adalah sebuah nirwana kecil, ya karena nirwana dunia itu niscaya.

Yet, suatu pagi yang cerah, I saw a dead cat on road, sepertinya korban tabrak lari, mungkin tak lama sebelum aku lewat. Ada yang bilang itu pertanda buruk, semoga saja tidak. Since this will only discuss about joyful things, aku tidak akan mengulas mengenai kematian tragis si kucing belang itu, semoga ia beristirahat dengan tenang. Di pagi yang lain aku melihat kecelakaan lalu lintas, and sadly, ada korban yang meninggal. It was tragic. Again, tidak akan diulas juga di sini. Kemudian, masih di pagi yang sama, selepas Delanggu, kembali aku menyaksikan kecelakaan, sepertinya tidak ada korban, hanya kaca 2 buah truk yang hancur. Hmm... hal tragis.

Eniwei, another morning has broken, another road must taken. Seperti biasa, aku kembali memulai perjalanan. It was a foggy dawn when I started my day. Tidak ada kucing mati atau kecelakaan lalu lintas. Karena suasana berkabut yang menyenangkan, aku sengaja lewat di depan Candi Plaosan, and you know what? Candi Plaosan menyembul di antara kabut, mengambang seakan tidak menyentuh tanah. Saking tertegunnya aku berhenti namun hanya sebentar, tak kuasa menahan aura mistis yang keluar. Sempat merinding sebentar, lalu kuputuskan segera melanjutkan perjalanan. Aah.. sayang, aku tak berani memotret keindahan magis itu. Sebuah niat terbersit, lain kali harus kuabadikan dalam sebuah foto, untuk kalian.

Perjalanan dilanjutkan, kabut pelahan menghilang, entah karena matahari membakarnya atau modernitas kota menelannya. Yang pasti, sore harinya, kala aku berusaha menangkap bayangan Candi Plaosan lagi, hujan deras mencegahku, terpaksa aku mempercepat laju motorku kembali pulang. Mungkin di hari lain aku sempat merekam keindahan Candi Plaosan.


luv,
-onk-

red berry vs purple red



Dear Luv,


Suatu malam di televisi ada film dalam negeri yang cukup menarik settingnya, sebuah rumah petak di pinggir rel kereta di Jakarta, yang anehnya interiornya didesain bak apartemen. cukup apik. Judul filmnya sedikit gak nyambung sama ceritanya, well, ceritanya sendiri juga rada membingungkan, makanya aku browsed di jaringan maya, ternyata review yang kubaca juga gak gtu bagus. disebutkan di salah satu blog film bahwa "xxx adalah film kedua dari 'film-film warna' yyy setelah zzz yang hanya menambah daftar film buruk Indonesia." Oh well.


Eniwei, regardless its bad review, rambut si pemeran utama wanita inspired me. She dyed her hair red. Yes, it's red. Bukan maroon atau brown, tapi red. Iya, red seperti red berry. Dengan inspirasi tersebut, kemarin I decided to dye mine red, bukan red berry tapi purple red. I have not enough guts to have red berry hair haha...




cheers,
-onk-

Monday, November 29, 2010

:: a pathetic transformation ::

Dear Luv,


It's Monday already, yet the weekend was not as good as I expected. The issue was simple, a used to be very nice person turns into a very annoying person. Why? Simply because of her heavy workload. How pathetic was that?

Knowing that, I am know really thanking the Lord for guiding me to make the right decision.



P.S: the above-mentioned annoying person just called me, and she has turned nice again. Oh my!



... and let our minds open, evolve and produce...
Luv,
-onk-

Tuesday, September 7, 2010

kembung

Dear Luv,


It was a clear night. The air was fresh but pretty cold since the afternoon. We had fun since the day, Little Red was satisfy and happy, ketawa-ketiwi seakan kami adalah komedian paten.

Lalu datanglah kegelapan, dia mulai gelisah. Bukan, bukan karena gelapnya malam, karena lampu rumah menyala terang benderang dan boksnya pun memiliki penerangan tambahan sebagai penghangat seperti di penetasan telur -which is cenderung menyilaukan but he loves it so let it be lah.

Jam 8 malam Little Red bangun, lalu menyusu seperti biasa. Setelah nyusu dia main-main. Selalu minta diajakin ngobrol atau menyanyi. Pernah Omi usul supaya dia diperdengarkan siaran radio, siaran berita tepatnya, biar nambah wawasan sekalian. To be noted: Omi mengusulkan ini dengan nada serius. Si radio tua yang udah naik ke gudang pun turun tahta ke lantai kamar Little Red, kembali dihidupkan. Meskipun setelah dicoba itu radio uzur berbunyi, Little Red memilih siaran musik ketimbang berita. Oh well.

Sampai jam 9 malam Little Red mulai bosan dengan 2 penyiar kesayangan, Ayah dan Bunda. Mulutnya yang semula tersenyum mulai merapat dan garis lengkungnya mengarah ke bawah. Oh oh Little Red mulai merengek. Semula rengekan biasa kusumbat dengan puting susu. tapi kali ini ditolak mentah-mentah. Dicoba lagi kujejalkan ke mulut mungilnya, dan dengan ajaib kembali ditolak. Oh no! Ini pertanda buruk. Ayah menggendongnya sambil meninabobokan, semakin semangat kami bernyanyi semakin Little Red memberontak. Rengekan meningkat intensitasnya menjadi tangisan dan tidak sampai 3 menit naik derajat lagi menjadi jeritan pilu menyayat hati.

Ayah dan Bunda yang semula telah mendadak dangdut, rock, pop, blues, jazz dll demi menghibur hati ananda kini mendadak panik. Dengan kepercayaan diri yang tinggi dan rasa sotoy abis kuletakkan Little Red di kasur, kubuka semua bajunya dan kutepuk perutnya dengan jari, lalu terdengarlah: bung..bung... oh ah my little boy kembung. Keluarlah minyak sakti paduan antara boreh dan minyak telon. Kami gosokkan ke perut dan punggung bawahnya sambil kami pegangi jemari mungilnya.

Satu menit, lima menit masih menjerit memilukan. Sepuluh menit kemudian mulailah keluar si angin jahat bernama kentut. Ampun baunya, seperti telur busuk. Bunyi panjang dari telur-telur busuk yang satu demi satu keluar itu ternyata membawa kebahagiaan bagi my Little Red. Jeritan pilu menyayat hati serta merta berhenti. Tidak sampai 5 detik si ugal-ugil kembali tersenyum. Olala... Setelah puas memproduksi angin beraroma telur busuk my Little Red kemudian ingat bahwa ia haus. Kali ini tidak menolak kususui. Aah leganya... Little Red pun tertidur karena lelah dan kenyang.

Besoknya kala kami menjemur Little Red beberapa tetangga yang lewat bertanya, kenapa semalam menangis keras? Habis imunisasi ya? Susunya keluarnya sedikit ya? Kedinginan? Digigit semut atau nyamuk kali... dan berjuta pertanyaan lain yang serasa menjadikan kami tertuduh penganiaya bayi.



... and let our minds open, evolve and produce.
luv,

-onk-


Monday, May 17, 2010

a girl name Niar and her Cucumbers, Limes and Bananas #2

Dear Luv,

As I read my first post with the same title, now I can answer my own question:

"Twenty thousands rupiah can do so much for her and her family, how much is it for us? a cup of frappucino and a cup of lemon tea that we used to sip? a pack of your cigar? a bar of my dark chocolate? hmm..."

Twenty thousands rupiah at this moment, can do so much for me too. It is about 3 kilos rice or two take-away meals or two days self-cooked meals for my little family. It did so much for Niar, it even do much more for me and my little family now.


It brings me lots of thought, twenty thousands rupiah two years ago and today has completely different values for me and my little family. It is true. Two years ago, it was a bar of my dark chocolate, but today? You know what, life is indeed a mystery. I never thought that twenty thousands rupiah can change my perception toward life.

Nothing last forever, though am still searching for eternal oblivion!


luv,
-onk-


Tuesday, May 11, 2010

am I lucky or simply deserve it? #2: antara sistem, pilihan, prioritas, kebahagiaan dan kepuasan

Dear Luv,


Sebuah tulisan dari masa lalu menggelitikku pagi ini, di sela-sela jam kerja aku mencuri waktu sedikit untuk menulis ini. Aku membaca ulang tulisanku dengan judul yg sama, Am I Lucky or Simply Deserve it?

At that time, I was lucky... very lucky to be there and I deserve(d) it. I did, I do. Now, those privilege --yang kuusahakan dan (sempat) berhasil kuwujudkan-- apakah harus kurelakan? Apakah aku sudah kehilangan my luck and my deservedness?

Ada sebuah 'sistem' --yang kurasa tidak bisa kusalahkan-- yang memisahkan antara manusia dengan luck & deservedness -nya. Ada juga yang namanya 'pilihan' yang kemudian berhubungan dengan yang namanya 'prioritas'. Lalu ada juga yang bernama 'kebahagiaan'. Keluarga beranak banyak itu kemudian bersepupu dengan yang bernama 'kepuasan'.

Kembali pada persoalan utama yang dibahas di judul ini, ketika bertanya kembali, lagi dan lagi: apa yang membuatku bahagia? ada banyak yang bisa kutuliskan, tapi ketika ditanyakan lagi: apa yang membuatku puas? hanya satu. Lalu apakah kepuasan harus mengalahkan kebahagiaan? atau sebaliknya? aku belum bisa menjawabnya. Karena sungguh itu dua hal yang berbeda, bukan saling menghalangi but simply they have very different path.

Mungkin jika aku masih memiliki my luck dan deservedness keduanya akan bertautan dan sejalan. Harapanku akan kulambungkan setinggi-tingginya. Mungkin nabastala yang luas menyimpan dua hal penting yang pernah kumiliki itu dan mau mengembalikannya padaku.


...berharap pada nabastala...
luv,
-onk-

Thursday, May 6, 2010

:: a privilege of being an expectant #4: shopping time ::

Dear Luv,

Gak terasa udah masuk bulan ke-8. Selain badan udah terasa berat dan harus banyak istirahat, ini jg berarti: BELANJA! yayayay...

Baju-baju kecil, grita, popok, sarung tangan - sarung kaki... and all those little cute things aaaw... membuatku lupa akan kondisi fisikku. Setiap kali berhenti dan mengamati item tertentu, aku terpukau, this is it, I'm shopping for my child. Berbeda rasanya dengan ketika membeli barang atau kado untuk diri sendiri, atau bahkan untuk suami. Kali ini aku memilih barang untuk seseorang yang sedang ada dalam perutku. Kyaa...!

Well of course, for me all colors have no sex, jd asal bahannya bagus, harga terjangkau dan sesuai kebutuhan, no matter what color, I bought them. But when I came to ribbon-decorated little shoes, aku jd bertanya, warna gak masalah tapi pita? Hmm... kalau nanti anakku laki-laki maka anggap aja ini pelajaran pertama tentang being-gender-neutral hahaha...

Eniwei... setelah sekitar sejam menelusuri lantai yg khusus untuk perlengkapan dan peralatan bayi, aku turun untuk mencari hal lain. Baru saja browsing, eh pandanganku gelap. Ternyata aku kecapekkan hehehw... mata berkunang-kunang tanda aku harus mengakhiri sesi belanja pertama ini.

Hmm... harus mengingat tentang keterbatasan energi lain kali. Alrite, that's all for now, I'll see you in the next (shopping) session :)



luv,
-0nk-